Lompat ke konten

Quiet Quitting Masih Terjadi? Cara HR Mengatasinya Sebelum Produktivitas Menurun

Quiet Quitting Masih Terjadi? Cara HR Mengatasinya Sebelum Produktivitas Menurun

Quiet Quitting Masih Menjadi Tantangan di Dunia Kerja

Quiet quitting menjadi salah satu istilah yang paling banyak dibahas dalam dunia HR beberapa tahun terakhir. Meskipun istilah ini mulai populer sejak 2022, fenomenanya masih banyak ditemukan di berbagai perusahaan di Indonesia hingga saat ini.

Banyak orang mengira quiet quitting berarti karyawan mengundurkan diri secara diam-diam. Padahal, pengertiannya berbeda. Quiet quitting adalah kondisi ketika karyawan tetap bekerja dan hadir setiap hari, tetapi hanya melakukan pekerjaan sesuai kewajiban minimum tanpa memberikan usaha lebih, inisiatif, maupun keterlibatan terhadap perusahaan.

Fenomena ini sering kali tidak langsung terlihat. Karyawan tetap datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaannya, dan tidak melanggar aturan. Namun, semangat kerja, kreativitas, kolaborasi, dan kepedulian terhadap tujuan perusahaan mulai menurun. Jika dibiarkan, quiet quitting dapat memengaruhi produktivitas tim dan budaya kerja secara keseluruhan.

Apa Itu Quiet Quitting?

Secara sederhana, quiet quitting adalah kondisi ketika karyawan memilih untuk bekerja sebatas apa yang tercantum dalam job description tanpa memberikan kontribusi tambahan.

Contohnya antara lain:

  • Menolak pekerjaan di luar tanggung jawab utama.
  • Tidak lagi memberikan ide atau inovasi.
  • Menghindari keterlibatan dalam kegiatan perusahaan.
  • Tidak memiliki motivasi untuk berkembang.
  • Hanya bekerja sesuai jam kerja tanpa inisiatif tambahan.

Perlu dipahami bahwa tidak semua karyawan yang menjaga keseimbangan kehidupan kerja mengalami quiet quitting. Masalah muncul ketika sikap tersebut disebabkan oleh hilangnya motivasi dan keterikatan terhadap perusahaan.

Mengapa Quiet Quitting Terjadi?

Ada banyak faktor yang menyebabkan quiet quitting. Dalam pengalaman banyak praktisi HR, penyebabnya sering kali berasal dari kombinasi faktor individu dan lingkungan kerja.

Beberapa penyebab yang paling umum adalah:

  1. Kurangnya Apresiasi

Karyawan merasa seluruh kerja kerasnya tidak pernah dihargai.

Apresiasi tidak selalu berupa bonus. Ucapan terima kasih, pengakuan atas pencapaian, maupun kesempatan berkembang sering kali memiliki dampak yang sama besar.

  1. Hubungan dengan Atasan Kurang Baik

Banyak penelitian menunjukkan bahwa karyawan lebih sering meninggalkan atasan dibandingkan meninggalkan perusahaan.

Pemimpin yang kurang komunikatif, terlalu otoriter, atau jarang memberikan arahan dapat memicu munculnya quiet quitting.

  1. Beban Kerja Tidak Seimbang

Ketika seorang karyawan terus menerima pekerjaan tambahan tanpa dukungan maupun penghargaan yang memadai, motivasi kerja dapat menurun.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menimbulkan burnout yang kemudian berkembang menjadi quiet quitting.

  1. Tidak Ada Kesempatan Berkembang

Generasi muda, khususnya Gen Z dan Milenial, sangat memperhatikan peluang pengembangan karier.

Jika perusahaan tidak menyediakan jalur karier yang jelas, pelatihan, atau kesempatan belajar, karyawan cenderung kehilangan motivasi.

  1. Budaya Kerja yang Kurang Sehat

Lingkungan kerja yang penuh konflik, komunikasi yang buruk, atau kurang transparan dapat membuat karyawan memilih untuk “bekerja seperlunya”.

Dampak Quiet Quitting bagi Perusahaan

Banyak perusahaan menganggap quiet quitting bukan masalah karena karyawan tetap hadir setiap hari.

Padahal dampaknya cukup besar, antara lain:

  • Produktivitas tim menurun.
  • Inovasi berkurang.
  • Employee engagement rendah.
  • Kualitas pelayanan menurun.
  • Risiko turnover meningkat.
  • Beban kerja anggota tim lain menjadi lebih berat.

Dalam jangka panjang, quiet quitting dapat memengaruhi pencapaian target bisnis dan menurunkan daya saing perusahaan.

Cara HR Mengatasi Quiet Quitting

Mengatasi quiet quitting tidak cukup hanya dengan memberikan teguran kepada karyawan. HR perlu memahami akar permasalahan dan membangun lingkungan kerja yang lebih sehat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Melakukan Employee Engagement Survey

Survei secara berkala membantu perusahaan memahami kondisi psikologis dan tingkat kepuasan karyawan.

Data tersebut dapat menjadi dasar dalam menyusun program perbaikan.

  1. Meningkatkan Kualitas Kepemimpinan

Atasan langsung memiliki pengaruh besar terhadap semangat kerja tim.

Perusahaan perlu membekali para supervisor dan manager dengan kemampuan komunikasi, coaching, dan leadership.

  1. Memberikan Feedback Secara Berkala

Feedback tidak hanya diberikan ketika terjadi kesalahan.

Diskusi rutin mengenai pencapaian, tantangan, dan pengembangan karier dapat meningkatkan keterlibatan karyawan.

  1. Menyusun Career Path yang Jelas

Karyawan ingin mengetahui peluang mereka di masa depan.

Career path yang transparan akan meningkatkan motivasi sekaligus loyalitas.

  1. Membangun Budaya Apresiasi

Budaya apresiasi tidak selalu membutuhkan biaya besar.

Pengakuan sederhana atas pencapaian karyawan sering kali memberikan dampak positif yang signifikan.

Peran HR dalam Mencegah Quiet Quitting

HR memiliki peran strategis dalam mencegah quiet quitting sejak dini.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menganalisis tingkat turnover.
  • Mengukur employee engagement.
  • Menyusun program pengembangan karyawan.
  • Melatih para leader.
  • Melakukan evaluasi budaya kerja.
  • Menyediakan jalur komunikasi yang terbuka.

Dengan pendekatan yang tepat, HR dapat mengubah lingkungan kerja menjadi lebih sehat dan produktif.

Insight Talentive

Di Talentive Consulting Indonesia, kami melihat bahwa quiet quitting sering kali bukan disebabkan oleh karyawan yang tidak peduli, melainkan karena perusahaan belum memiliki sistem pengelolaan SDM yang mampu menjaga keterlibatan dan motivasi mereka.

Banyak organisasi baru menyadari adanya masalah setelah produktivitas menurun, tingkat turnover meningkat, atau hasil survei kepuasan karyawan menunjukkan tren negatif. Padahal, gejala tersebut biasanya sudah muncul jauh sebelumnya dan dapat diidentifikasi melalui evaluasi HR yang terstruktur.

Perusahaan yang secara rutin melakukan evaluasi terhadap budaya kerja, sistem manajemen kinerja, kualitas kepemimpinan, serta pengalaman karyawan cenderung lebih berhasil membangun tim yang produktif dan loyal.

Bagaimana Talentive Membantu Perusahaan Mengatasi Quiet Quitting?

Mengatasi quiet quitting membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan baru. Dibutuhkan pendekatan yang menyeluruh agar akar permasalahan dapat ditemukan dan diselesaikan.

Melalui layanan HR Consulting, Talentive membantu perusahaan untuk:

  • Melakukan HR Audit guna mengidentifikasi penyebab rendahnya engagement dan produktivitas.
  • Menyusun Employee Engagement Strategy yang sesuai dengan budaya dan tujuan bisnis perusahaan.
  • Mengembangkan Performance Management System yang mendorong pencapaian kinerja sekaligus memberikan ruang pengembangan bagi karyawan.
  • Memberikan Leadership Development Program agar para supervisor dan manager mampu membangun komunikasi serta motivasi tim secara efektif.
  • Menyusun Career Path dan sistem pengembangan kompetensi yang lebih terarah.
  • Mengimplementasikan HRIS untuk membantu perusahaan memonitor data SDM, performa, absensi, dan berbagai indikator HR secara lebih akurat.

Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan tidak hanya dapat mengurangi risiko quiet quitting, tetapi juga meningkatkan produktivitas, retensi karyawan, dan kesiapan organisasi dalam menghadapi pertumbuhan bisnis.

Penutup

Quiet quitting bukan sekadar tren media sosial, tetapi merupakan sinyal bahwa perusahaan perlu mengevaluasi cara mengelola sumber daya manusianya. Karyawan yang merasa dihargai, memiliki arah pengembangan yang jelas, dan bekerja dalam lingkungan yang sehat akan lebih mudah membangun komitmen jangka panjang terhadap perusahaan.

Bagi HR dan pemilik bisnis, fokus utama seharusnya bukan hanya mencegah karyawan mengundurkan diri, tetapi juga menciptakan organisasi yang mampu membuat karyawan tetap terlibat, berkembang, dan memberikan kontribusi terbaiknya.